NILAI-NILAI OLAHRAGA DAN PEMBANGUNAN KETAHANAN NASIONAL INDONESIA

Oleh Syarifudin

BAB I

PENDAHULUAN

Kehidupan yang sehat sesungguhnya merupakan dambaan setiap orang dan menjadi bagian dari kebutuhan manusia secara alami. Sebab dengan kesehatan dan kebugaran tubuh, individu bukan saja dapat menjalani dan menikmati kehidupannya sehari-hari secara normal, tetapi juga lebih bermakna. Orang yang hidup sehat dipastikan akan lebih mudah dapat merencanakan, mengatur, dan mengisi hari-harinya atau masa depannya dengan lebih mudah. Mereka bahkan dapat mewujudkan mimpi-mimpinya menjadi kenyataan. Demikian pula sebaliknya, orang yang tidak sehat akan sangat sukar mengisi hidup dan hari-harinya dengan baik dan sempurna. Kehidupannya dipastikan terganggu, hartanya terkuras, bahkan nyawanya terancam.

Dapatlah kita bayangkan bagaimana rasanya kalau kita sakit, semua rencana atau aktifitas yang kita susun berantakan, tertunda, bahkan gagal sama sekali. Karena itu, tepatlah pepatah mengatakan bahwa, “kesehatan adalah harta yang paling berharga”. Akan tetapi, malangnya, dalam kehidupan sehari-hari, tidak banyak orang yang memahami dan sadar akan pentingnya kesehatan badan ini. Mereka menganggap kesehatan sebagai sesuatu yang taken for granted, sehingga tidak berusaha menjaganya dengan baik. Sebagian justru malah mengabaikan aspek-aspek kesehatan jasmani tersebut, dan malah mengamalkan cara-cara hidup yang bertentangan serta merusak.

Pekerjaan rutin dan kesibukan yang menumpuk serta beban pikiran yang berat yang menyangkut segala persoalan hidup, baik di dalam maupun di luar rumah tangga, seringkali menjadi gangguan utama yang menyebabkan individu lupa menjaga kesehatannya dengan baik. Kesadaran individu baru timbul ketika mereka ditimpa penyakit. Barangkali tidak salah kalau dikatakan bahwa hanya dengan sakitlah individu dapat disadarkan akan makna kesehatannya. Usaha untuk menjadi sehat tidak cukup dilakukan dengan makan yang bergizi saja, tetapi juga harus disertai dengan pembiasaan cara-cara hidup yang sehat pula.

Salah satu cara yang tepat dalam menjaga kesehatan jasmani adalah dengan berolahraga. Olahraga adalah merupakan gerak tubuh yang tersusun secara ritmis dan teratur sedemikian rupa yang secara total melibatkan organ-organ internal tubuh maupun obyek eksternal di luarnya, yang dimaksudkan untuk memperoleh kebugaran tubuh[1] Dalam kaitan ini olahraga bukan saja mencakup gerakan-gerakan individual yang tersusun secara ritmis saja, tetapi juga mencakup segala jenis permainan yang ada, baik yang dilakukan secara individual  maupun berkelompok.

Pada dasarnya olahraga bukan hanya mengandung manfaat dalam menyehatkan tubuh saja, tetapi juga menumbuhkembangkan nilai-nilai luhur yang sangat bermanfaat dalam kehidupan. Karena di dalamnya bukan hanya menyangkut keterlibatan individu saja, tetapi juga keterlibatan masyarakat luas. Bidang ini telah memiliki kaitan dengan kehidupan orang banyak, dan karena itu memiliki dimensi sosial serta fungsional yang sangat luas. Secara fungsional olahraga berperan atau berfungsi menyehatkan tubuh, sementara pada dimensi sosial, olahraga berperan dalam menanamkan nilai-nilai dan norma-norma kehidupan yang patut diamalkan dalam kehidupan.

Jika dikaji secara mendalam nilai-nilai tersebut sangat berguna dalam kehidupan bersama. Terlepas dari merosotnya prestasi olahraga kita dewasa ini, yang ditandai dengan seringnya terjadi insiden dalam beberapa kompetisi sehingga mencoreng reputasi olahraga kita, maka patut kiranya nilai-nilai yang terkandung di dalamnya dihayati, ditanamkan dan diimplementasikan secara luas. Dalam konteks kehidupan berbangsa dan bernegara dewasa ini nilai-nilai luhur semacam itu, justru sangat dibutuhkan sebagai landasan dan inspirasi bersama. Di tengah ancaman erosi nilai-nilai kebangsaan yang belakangan ini semakin nyata, maka perlu kiranya kita menggali kembali melalui berbagai momen dan wahana kehidupan yang ada.

Sebagai salah satu bidang yang menjadi bagian daripada pembangunan bangsa, bidang olahraga memiliki peran strategis dalam mengaktualisasikan kembali nilai-nilai positif yang terdapat di dalamnya, untuk ditransformasikan dalam kehidupan kebangsaan dalam rangka memperkokoh keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Berdasarkan pernyataan-pernyataan di atas artikel ini berusaha menjelaskan, apa bentuk-bentuk nilai olahraga yang dapat dimanfaatkan dalam proses pembinaan bangsa? Bagaimana menerapkan nilai-nilai positif tersebut dalam kehidupan kebangsaan, khususnya dalam memperkokoh keutuhan NKRI dewasa ini?

BAB II

PEMBAHASAN

A. Hakikat Olahraga dan Hakikat Nilai

Olahraga pada hakikatnya merupakan kegiatan olah tubuh yang ditandai dengan gerakan-gerakan tubuh secara ritmis dan tersusun yang dimaksudkan untuk memperoleh kebugaran dan kesehatan. Kegiatan ini melibatkan organ-organ tubuh yang ditandai dengan  proses pelibatan seluruh dimensi individu, baik gerak, kognisi, afeksi, maupun emosi.[2] Pada skala kecil kegiatan ini bisa dilakukan secara sendiri-sendiri maupun berkelompok dalam jumlah tertentu. Sebagai sebuah gerakan olah tubuh yang melibatkan individu dengan individu lain, tentulah olahraga diwarnai dengan interaksi antar masing-masing individu.

Dalam prakteknya, di samping dikatakan sederhana dan simple, dunia olahraga juga bersifat kompleks. Dikatakan sederhana karena dapat dilakukan oleh siapa saja dan di mana saja, serta kapan saja, asalkan mereka mau menyempatkan waktu untuk itu. Kegiatan ini dapat dilakukan dengan biaya yang paling murah, bahkan gratis, sampai yang paling mahal. Sementara di katakan kompleks, karena pada tahap tertentu bidang olahraga melibatkan banyak orang dengan pengorganisasian yang besar, serta sarat beragam kepentingan, mulai dari lingkup masyarakat paling kecil sampai nasional ataupun bahkan internasional. Karena itu, tujuan olahraga kemudian bergeser bukan hanya senmata-mata untuk kesehatan saja tetapi juga menyangkut politik, ekonomi, budaya, sosial dan lain-lain. Kemajuan olahraga kemudian menjadi cermin sekaligus gengsi tersendiri bagi setiap masyarakat dan bangsa.[3]

Adapun nilai merupakan rujukan perilaku, sesuatu yang dianggap “luhur” dan menjadi pedoman hidup manusia dalam kehidupan masyarakat.[4]. Dimensi nilai merupakan bagian dari aspek aksiologi. Dengan demikian, nilai-nilai olahraga adalah, nilai-nilai yang terkandung dalam kegiatan tersebut, yang menjadi unsur pemandu dan sumber inspirasi. Dalam bidang keolahragaan, nilai-nilai ini sangat penting untuk dikemukakan mengingat bidang keolahragaan merupakan mikrokosmos yang mencerminkan atau merefleksikan tatanan masyarakat yang lebih luas. Dengan kata lain, dunia olah raga, untuk sebagian, dapat menjadi gambaran wajah masyarakat itu sendiri. Walaupun bidang olahraga itu pada hakikatnya netral, namun sukar untuk dibantah, bahwa nilai-nilai yang hidup di masyarakat dan menjadi orientasi mereka sedikit  banyak termanifestasi dalam bidang-bidang lain, termasuk olahraga. Nilai-nilai itu, terutamanya akan memberikan pengaruh dalam hal pembentukan watak dan karakter individu-individu di dalamnya, sekaligus mencerminkan masyarakatnya.

Berbagai nilai positif dalam olahraga yang kiranya patut dikembangkan dan ditransformasikan dalam konteks kehidupan kebangsaan adalah seperti: Persamaan, persahabatan, integritas, keberanian, tanggungjawab, kekompakan, kerjasama, penghargaan atau saling menghormati, keberanian, perjuangan, kerja keras, solidaritas, sportifitas, fairness, kompetisi, kejujuran, keadilan, dan lain-lain. Dewasa ini, dalam kaitan kehidupan kebangsaan kita yang diliputi suasana kegalauan dan bayang-bayang akan ancaman keutuhan NKRI, maka diseminasi dan penanaman nilai-nilai tersebut kepada khalayak melalui medium olahraga menjadi sangat relevan dan perlu. Kiranya sukar untuk dibantah bahwa bidang olahraga menduduki posisi strategis sekaligus unik.

Olahraga ternyata bukan semata-mata bermanfaat secara sosial, ekonomi dan rekreatif saja, tetapi juga politis.[5]. Dunia olahraga dapat menjadi sarana ampuh untuk memupuk jati diri politik, di mana pada tahap-tahap tertentu individu-individu secara emosional dan spontan “berbagi nilai” secara bersama. Hanya saja persoalannya adalah bagaimana kiranya kita secara kreatif dapat memanipulasi, dalam arti mengarahkan, nilai-nilai positif olahraga di atas secara intrinsik menuju ke arah penguatan kesadaran dan loyalitas kewargaan untuk tetap berada dalam satu entitas kebangsaan, yakni Indonesia.

B. Nilai-Nilai Dalam Olahraga

Seperti disebutkan di atas ada beberapa nilai dalam olahraga yang dapat diaktualisasikan dalam kehidupan kebangsaan. Nilai-nilai itu adalah: Pertama, persatuan. Nilai persatuan merupakan nilai yang mutlak dalam olahraga. Pengertian persatuan bukan hanya dalam olahraga yang bersifat kelompok saja tetapi juga individual. Persatuan wujud dalam bentuk keterikatan yang kuat di antara sesama pemain, pelatih, pengurus dan juga pendukungnya. Tanpa ditunjang adanya persatuan mustahil suatu individu atau tim dapat melakukan atau bahkan memenangkan pertandingan dengan baik.

Kedua, kerjasama dan kekompakan. Aspek kerjasama sangat penting dalam sebuah olahraga, terutama olahraga yang dilakukan secara berkelompok. Kerjasama dan kekompakan mutlak dilakukan jika sebuah tim menginginkan kemenangan dalam suatu permainan.  Bagaimanapun tingginya skill individual yang dimiliki para pemain serta bagusnya pelatih maupun official yang ada, jika tidak dibarengi dengan kerjasama yang kuat maka akan sia-sia saja. Kerjasama dalam hal ini bukan hanya intern di antara para atlet saja tetapi semua pihak yang bertanggungjawab terhadap tim, termasuk pelatih dan seluruh official di dalamnya.

Ketiga, persahabatan. Meskipun dalam sebuah kompetisi antar kelompok masing-masing tim saling berhadapan, bersaing secara sengit dan berusaha mengalahkan satu sama lain, namun begitu permainan usai atau di luar acara permainan, masing-masing individu atau kelompok tetap harus menganggap lawannya sebagai sahabat. Jangan sampai beberapa insiden yang terjadi di dalam pertandingan dibawa-bawa keluar, yang justru memperuncing masalah. Para pemain sepatutnya dapat memilah-milah antara urusan pribadi dengan urusan kemanusiaan. Ketika bermain, setiap atlet dituntut untuk berusaha semaksimal mungkin dapat mengalahkan lawannya, berjuang sekuat-kuatnya. Namun ketika pertandingan selesai, terlepas kalah atau menang setiap atlek tetap harus memperlakukan lawannya secara terhormat dan manusiawi, sehingga tidak boleh menghina atau merendahkannya.

Hal ini terkait erat dengan nilai yang keempat, yakni penghargaan atau saling menghormati atau persamaan. Penghormatan di antara masing-masing individu maupun tim dalam olahraga menunjukkan adanya penghargaan serta ketulusan satu sama lain yang sudah menjadi kewajiban bersama. Meskipun di antara mereka terdapat berbagai perbedaan, mulai dari  latar belakang politik, ekonomi, sosial, budaya, geografis, dan lain-lain, namun tetap harus dipandang sama dan dihormati sebagaimana layaknya.

Kelima, sportifitas. Aspek sportifitas merupakan salah satu segi yang sangat penting dalam dunia olahraga. Dengan sportifitas dimaksudkan bahwa individu atau kelompok bersikap kesatria, gentle, dan jujur dalam permainan. Dalam pengertian ini pemain berlaku fair dan terbuka, tidak melakukan kecurangan maupun tipudaya tertentu terhadap lawan-lawannya. Sportifitas lebih menunjukkan adanya sikap tanggung jawab seorang atlet. Sikap sportif yang menjunjung tinggi kejujuran menjadi tolok ukur, sekaligus asas kompetisi yang sehat dan bermutu. Sportifitas lebih menunjukkan adanya sikap tanggungjawab seorang atlet.

Berkaitan dengan sportifitas adalah nilai yang keenam, yakni fairness, yang ditandai dengan sikap obyektif yang terbuka dan tidak memihak. Dalam olahraga, sikap fairness atau fair play mengacu pada permainan yang bersih, tidak curang atau dikotori tipu muslihat, baik yang berasal dari para atlet sendiri maupun wasit dalam pertandingan. Karena itu, mutu dari suatu olahraga dapat dikatakan baik kalau  dilakukan secara fair, di mana semua pihak melakukannya dengan cara-cara yang jujur dan adil

Nilai ketujuh adalah ketekunan dan kerja keras. Hal ini terlihat bagaimana para atlet dan seluruh tim sejak awal, dalam jangka waktu tertentu, berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun secara rutin berlatih menempa diri, mempersiapkan pertandingan yang dihadapi. Sampai pada gilirannya mereka membuktikan kemampuannya, yang berakhir dengan kekalahan maupun kemenangan. Cerminan dari kerja keras dan ketekunan tersebut benar-benar ada ketika mereka menjalani proses demi proses yang melelahkan. Proses ini jelas membutuhkan kesabaran dalam menahan diri, maupun keseriusan dalam berlatih. Ini merupakan bagian dari perjuangan.

Kedelapan adalah, solidaritas. Solidaritas mencerminkan  sikap kebersamaan, berbagi perasaan satu sama lain baik senang maupun susah atas sesuatu obyek masalah atau kejadian.  Dalam olahraga, nilai solidaritas perlu ditanamkan secara kuat, baik dalam lingkup internal tim maupun antar tim dengan pendukungnya. Kuatnya solidaritas menunjukkan adanya keterikatan emosional di antara mereka, sekaligus menjadi sumber pendorong semangat yang membangun.  Karena itu, solidaritas perlu diarahkan ke tujuan-tujuan yang positif.

Kesembilan, tanggungjawab. Aspek tanggungjawab berkaitan dengan kewajiban individu atau kelompok atas tugas-tugasnya. Rasa tanggungjawab, mencerminkan sikap amanah dan berani mengambil prakarsa ataupun resiko atas setiap tugas yang diemban, baik yang berakhir dengan keberhasilan maupun kegagalan. Sikap tanggung jawab adalah bagian dari mentalitas positif yang selayaknya dimiliki setiap individu. Rasa tanggungjawab merupakan lawan dari sikap pengecut dan sikap lepas tangan yang terdapat pada kebanyakan orang. Dalam bidang olahraga kurangnya rasa tanggungjawab, yang ditandai dengan saling lempar kesalahan, seringkali melemahkan sebuah tim dan bahkan dapat menghancurkannya.

Selanjutnya, nilai kesepuluh adalah keberanian. Nilai keberanian  menunjukkan rasa percaya diri untuk bertindak melakukan sesuatu. Sikap ini dilandasi keyakinan akan kemampuan diri, dalam berkompetisi dengan pihak lawan. Karena salah satu unsur kegiatan olahraga adalah adanya kompetisi, maka seorang atlet harus selalu siap untuk maju bertanding memperagakan kemampuannya. Keberanian dalam kaitan ini bukan jenis keberanian yang tanpa perhitungan, namun keberanian yang diperhitungkan dengan cermat. Seorang atlet tidak boleh menghindari kenyataan bahwa keunggulan mereka hanya bisa dinilai setelah melalui proses kompetisi yang fair.

Kesebelas, adalah integritas. Nilai integritas menunjukkan ciri-ciri yang merangkumi sifat-sifat unggul dalam diri individu atau kelompok secara keseluruhan. Nilai integritas ini, sama dengan nilai-nilai yang disebutkan sebelumnya di atas, yang selayaknya ditegakkan semua insan olahraga yang terkait, mulai dari atlet, wasit, pelatih, pengurus, maupun pendukungnya. Integritas tidaklah semata-mata monopoli milik pemain saja, tetapi juga unsur-unsur lainnya. Dalam bidang olahraga integritas ditunjukkan dengan sikap maupun perilaku positif yang mencerminkan segi-segi kebaikan. Karena itu, sekali lagi integritas lebih bermakna penghayatan dan penerapan nilai-nilai baik secara totalitas.

Beberapa nilai yang dijelaskan di atas, sesungguhnya tidak berdiri sendiri, melainkan terkait satu sama lain. Nilai-nilai yang satu memiliki sifat komplementer terhadap yang lain, yang dalam prakteknya saling menunjang. Terlepas dari adanya beberapa kekurangan di sana sini, dalam bidang keolahragaan kita dewasa ini, namun hal tersebut tidak mereduksi pentingnya kandungan nilai-nilai luhur itu sebagai sumber inspirasi untuk ditransformasikan dalam kehidupan kebangsaan. Meskipun bidang keolahragaan hanyalah bagian kecil dari subsistem kehidupan kita, namun eloklah kiranya jika nilai-nilai itu, secara luas dapat diterapkan sebagai model.

C. Implementasi Nilai-Nilai Olahraga Dalam Memperkokoh NKRI

Setelah menjelaskan nilai-nilai di atas dapat diketahui bahwa ada banyak nilai dalam bidang olahraga yang sejajar dengan kebutuhan kita dalam memperkuat kehidupan bangsa. Secara luas dapat dikatakan bahwa nilai-nilai tersebut dapat menjadi platform dalam mengembangkan tatanan bangsa yang kini menghadapi tantangan besar. Sebagaimana diketahui, seiring dengan kemajuan jaman yang ditandai pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi,  telah terjadi pergeseran-pergeseran penting di berbagai bidang. Dalam skala yang luas terjadi transformasi dalam kehidupan politik, ekonomi maupun budaya, yang diikuti dengan munculnya aspirasi-aspirasi dan tuntutan-tuntutan baru di masyarakat. Tuntutan itu berupa keinginan yang kuat akan perbaikan kondisi kehidupan ekonomi yang lebih sejahtera, politik yang lebih terbuka, dan budaya yang reseptif terhadap nilai-nilai kemajuan.

Terdapat berbagai kecenderungan baru yang bersifat kontradiktif yang tidak dapat dibendung sebagai hasil pemikiran dan interaksi antar budaya yang berlangsung secara intensif. Pada satu sisi, kita menyaksikan munculnya globalisasi yang mengarah pada penyatuan identitas manusia sejagad, yang disertai dengan menguatnya penetrasi sistem, modal, barang dan nilai-nilai budaya asing khususnya Barat ke seluruh ceruk kehidupan. Sementara pada sisi lain berlangsung proses penguatan nilai-nilai dan identitas baru di tengah masyarakat dalam bentuk munculnya reaksi-reaksi lokal yang ingin tetap eksis di tengah serbuan budaya baru.[6] Gejala-gejala ini memberikan efek bermata dua. Pada satu segi dapat menghasilkan kemajuan, sementara pada segi lain dapat menghancurkan. Sulit kiranya bagi kita untuk menghindari proses ini, sehingga tidak ada pilihan lain kecuali menghadapinya dengan sikap waspada dan selektif.

Perkembangan-perkembangan di atas, membawa dampak besar bagi bangsa Indonesia. Berbarengan dengan terjadinya transformasi politik dari sistem otoritarian Orde Baru menuju sistem demokrasi di bawah Orde Reformasi kita menyaksikan serangkaian fenomena pahit yang mengoyak sendi-sendi kehidupan bangsa dan bahkan menjurus pada ancaman terhadap keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Beberapa kejadian itu seperti: Munculnya kekerasan dan konflik-konflik horisontal di masyarakat, merebaknya tuntutan otonomi, munculnya gerakan separatis di beberapa daerah, terjadinya krisis pangan dan energi, munculnya bencana alam dan kecelakaan di mana-mana secara beruntun, meningkatnya korupsi,  lemahnya pemerintahan dan lain-lain.

Rangkaian kejadian tersebut secara nyata telah melemahkan kedudukan bangsa Indonesia dan nyaris menenggelamkan dalam kubangan sejarah. Salah satu penyebab dasar dari hal-hal tersebut adalah masih tipisnsya  rasa kebangsaan, lemahnya rasa persatuan, kurangnya rasa persamaan, perjuangan, solidaritas dan kekompakan, rasa tanggung jawab, persaudaraan, serta integritas yang selama ini kita miliki, yang akar-akarnya dapat kita telusuri lebih jauh pada lemahnya mentalitas dan ethos kita sebagai bangsa. Sebagai jawabannya bangsa Indonesia harus bekerja lebih keras lagi, memecahkan berbagai problem yang dihadapi secara simultan dan sinergis dengan cara-cara yang berkesan. Simultan dalam artian memecahkan seluruh masalah secara serentak. Sementara secara sinergis berarti memecahkannya secara terpadu atau terintegrasi dengan bidang-bidang lain.

Salah satu usaha yang perlu dilakukan adalah melalui sumber “nilai”, berupa reaktualisasi kembali nilai-nilai luhur bangsa dalam kehidupan masyarakat. Dalam kaitan ini, secara khusus kita dapat mengambil dan mentransformasikan atau mentransmisikan nilai-nilai yang selama ini berlaku dalam bidang olahraga. Sebagaimana dijelaskan di atas, nilai-nilai yang terkandung dalam bidang olahraga amat bersesuaian dengan nilai-nilai kebangsaan. Karena bidang olahraga yang merupakan representasi dari dunia atau lingkungan  yang lebih besar di sekitarnya, maka sangat tepat jika dikatakan bahwa nilai-nilai dalam olahraga dapat ditransmisikan dalam kehidupan kebangsaan.

Dengan mengambil nilai persatuan, kita dapat mewujudkan keterikatan yang kuat dengan berbagai komponen bangsa yang lain. Rasa persatuan perlu terus dipupuk dan dikembangkan, sebab dengan adanya persatuan segala persoalan bangsa lebih mudah dihadapi secara bersama. Akan tetapi sebaliknya, jika kita tidak mampu menjaga persatuan maka otomatis akan kehilangan kekuatan. Apa yang terjadi jika masing-masing unsur bangsa ini lepas sendiri-sendiri, terpecah belah mengikuti keinginan dan hasrat masing-masing. Sudah barang tentu mereka akan lemah dan mudah dikuasai. Belakangan, sangat dirasakan bagaimana hilangnya rasa persatuan ini menyebabkan bangsa Indonesia kehilangan kepercayaan dan jati diri. Ibarat orang bermain olahraga, kehidupan bangsa adalah mirip satu tim yang perlu dibina dengan kokoh berhadapan dengan bangsa lain.

Dalam bidang olahraga, kita bisa mengambil rasa kesatuan ini dalam bentuk solidaritas yang kita berikan, ketika misalnya, Tim Nasional (Timnas) olahraga Indonesia bermain dengan negara lain. Ada perasaan atau keterikatan emosional yang intrinsik, yang sama dan mendalam di antara kita untuk memberikan dukungan agar Timnas kita menang dalam pertandingan. Sebagai contoh, bagaimana perasaan kita secara otomatis bersatu, atau “berbagi nilai” dan “identitas”, ketika timnas bulutangkis atau sepakbola berhadapan dengan Malaysia. Bagaimana pula perasaan kita, ketika petinju Ellyas Pical menghadapi lawan-lawannya?. Tentu kita bersatu, menginginkan kemenangan itu. Nilai-nilai inilah kiranya dapat ditanamkan dan ditransformasikan dalam kehidupan kebangsaan.

Terkait dengan dimensi persatuan adalah kerjasama dan kekompakan. Tinggi rendahnya derajat persatuan akan sangat berpengaruh terhadap kerjasama dan kekompakan. Sesuatu bangsa tidak mungkin dapat menjalankan kerjasama dan bersifat kompak kalau tidak ada landasan persatuan. Jadi persatuan merupakan titik tolak utama yang menentukan corak kerjasama di antara anggota masyarakat. Salah satu kelemahan kita dewasa ini adalah makin berkurangnya sifat kerjasama atau gotong royong ini. Terjadinya pergeseran norma-norma dalam masyarakat akibat kemajuan-kemajuan material yang berlangsung, menjadikan anggota masyarakat kini cenderung lebih mementingkan dirinya sendiri.

Sikap individualistik telah menjadi ciri menonjol dalam kehidupan bangsa Indonesia, dan menggerogoti segenap dimensi kehidupan. Segalanya diukur dengan takaran materi. Kenyataan tersebut bukan hanya terjadi di lingkungan kota-kota besar saja, tetapi untuk sebagian, sudah menyusup dalam lingkungan pedesaan yang dulu dikenal dengan sikap tolong menolong dan toleransinya atau kepeduliannya yang tinggi. Tekanan hidup sehari-hari yang berat menyebabkan orang berpikir masa bodoh dan cenderung mengabaikan akal sehatnya.

Aspek kerjasama dan kekompakan ini selayaknya ditunjukkan oleh semua lapisan masyarakat, bukan hanya antara kelompok saja,  tetapi juga antara seluruh komponen bangsa Indonesia dengan latar belakang yang berbeda. Kerjasama dan kekompakan tidak dapat dilakukan secara segmental saja, antar elite dengan elite saja, atau masyarakat dengan masyarakat saja, tetapi antar elite dengan massa yang terintegrasi dengan baik. Aspek ini juga mencakup nilai persahabatan. Seperti kita lihat, dibalik merosotnya semangat kerjasama ini adalah mulai pudarnya semangat persahabatan, atau dalam bahasa sosial, “kesetiakawanan”. Karena itu perlunya kita menggemakan kembali gagasan “kesetiawanan sosial nasional” yang telah redup.

Dalam bentuknya yang kongkrit, kesetiakawanan merupakan bagian dari sikap solidaritas, yakni adanya perasaan senasib dan sepenanggungan, di mana-mana masing-masing anak bangsa merupakan bagian yang tidak terpisahkan satu sama lain. Sikap ini mencerminkan rasa kebersamaan yang secara emosional melekat dalam diri setiap individu. Mereka adalah satu anggota keluarga besar bangsa Indonesia, yang harus memperoleh perlakuan yang sama dan berhak menikmati hasil-hasil pembangunan yang berkeadilan, tidak didiskriminasi, dan berada pada posisi sederajat. Pengabaian atas hal tersebut sama artinya dengan melenyapkan dimensi kemanusiaan yang paling hakiki, yang menjadi bagian penting dari apa yang disebut sebagai hak asasi manusia.

Perwujudan akan sikap solidaritas di atas akan mendorong terwujudnya persahabatan, di mana masing-masing anggota masyarakat  saling menyayangi, sebagaimana seorang sahabatnya. Kendati mereka memiliki posisi dan peranan, latar belakang agama, etnis, golongan, bahkan pendirian dan aliran politik yang berbeda, namun dalam kehidupan bermasyarakat tetap harus diperlakukan secara manusiawi sebagai sahabat. Jangan sampai berbagai perbedaan yang ada menyebabkan masing-masing individu menganggapnya sebagai permusuhan. Dalam kehidupan, secara alamiah konflik akan tetap ada dan bahkan pada tahap tertentu merupakan keharusan bagi dinamika masyakat. Hanya saja, jangan sampai menjadi sumber perpecahan dan permusuhan.

Karena itu, kita wajib menghargai dan menghormati berbagai pandangan dan pendirian orang lain. Apalagi jika pandangan tersebut sangat konstruktif dan baik, yang dapat menjadi jalan keluar dalam menghadapi persoalan. Dalam konteks ini, diperlukan suatu toleransi yang besar dan sikap lapang dada agar kita terbiasa dengan perbedaan-perbedaan. Dengan kata lain, kita dituntut untuk berlaku sportif dan terbuka. Sentimen-sentimen individual yang tidak berdasar, atau adanya perbedaan yang tidak prinsipil tidak boleh dijadikan alasan untuk menolak atau mengabaikan pandangan orang lain. Harus dipahami bahwa perbedaan-perbedaan antar individu terjadi karena masing-masing kita memiliki pengalaman hidup yang berbeda. Sikap sportif menunjukkan kebesaran jiwa, sekaligus kejujuran individu atas berbagai keterbatasannya.

Salah satu contoh nilai solidaritas dalam bidang olahraga adalah seperti yang ditunjukkan dalam kejadian beberapa waktu yang lalu di mana salah seorang wasit karateka Indonesia dianiaya di Malaysia. Masyarakat secara spontan mengecam tindakan tersebut dan menuntut pemerintah Malaysia memohon maaf. Gelombang protes yang bertubi-tubi dan kecaman luas masyarakat menunjukkan tingginya tingkat solidaritas yang ada. Isu pemukulan wasit, untuk seketika, menyatukan sikap seluruh masyarakat bahkan menenggelamkan isu-isu domestik utama lain yang muncul. Inilah wujud solidaritas organik yang perlu dikembangkan pada tataran nasional.

Bisakah kita mentransformasikan sikap itu dalam bentuk yang nyata, ketika ada para Tenaga Kerja Indonesia (TKI) dianiaya atau mati di luar negeri, melawan koruptor, eksploitasi asing, penyelundupan dan lain-lain? Sikap solidaritas, amat berkaitan erat dengan sikap fairness, yang menjunjung tinggi obyektifitas. Berlakunya nilai fairness, menunjukkan adanya kejujuran yang merujuk pada kesediaan untuk berlaku tidak memihak dan apa adanya.

Selanjutnya, nilai ketekunan dan kerja keras dapat diimplementasikan dengan kerja yang tidak kenal lelah, mengisi pembangunan. Masing-masing individu, dengan segala kemampuan yang dimilikinya patut berusaha kuat untuk mewujudkan kesejahteraan bersama. Kerja keras dalam hal ini juga diikuti dengan kesediaan untuk berkorban, tanpa pamrih. Pencapaian tujuan negara tidak bisa dilakukan oleh para pemimpin saja tetapi juga menjadi kewajiban seluruh warga negara. Karena sasaran yang dicapai bukan jangka pendek, tetapi jangka panjang, maka tidak harus selalu puas dan terbuai dengan prestasi-prestasi yang sesaat. Tentu saja hal ini merupakan jalan panjang yang penuh tantangan, yang harus dihadapi dengan kesabaran, dalam artian sabar menghadapi proses.

Dalam kaitan ini, setiap warganegara perlu memiliki keberanian, terutama para pemimpinannya untuk mengambil langkah-langkah positif dalam memperbaiki keadaan. Salah satunya adalah berani mengambil resiko dengan melakukan langkah-langkah terobosan dalam memajukan bangsa. Karena besarnya akumulasi masalah yang kita hadapi dari waktu ke waktu, maka pada tahap tertentu langkah terobosan perlu dilakukan, dan itu memerlukan keberanian. Dewasa ini cara pemecahan pembangunan melalui pendekatan konvensional tidak lagi relevan karena menjauhkan rakyat dari partisipasi pemecahan masalah secara kongkrit. Kita memerlukan suasana bagi tumbuhnya inisiatif-inisiatif yang berani dan menantang untuk maju.

Namun di atas segalanya, perlu adanya rasa tanggungjawab di antara anggota masyarakat, khususnya para pemimpin bangsa. Rasa tanggungjawab merupakan bentuk nilai positif yang perlu dijunjung tinggi oleh individu manapun dalam lingkup kehidupan yang kecil maupun besar. Karena pada hakikatnya, di semua segi kehidupan pada tingkat apapun, atau sekecil apapun, semua pekerjaan memerlukan adanya tanggungjawab. Perbedaannya hanya terletak pada bidang dan besaran tanggungjawab yang dipikul masing-masing individu. Sikap ini bertentangan dengan mentalitas pengecut atau lepas tangan yang menjadi anutan sebagian orang. Pemimpin yang sejati adalah yang berani bertanggung jawab, menanggung resiko dan akibat dari perbuatannya. Pada kenyataannya banyak orang yang berani memimpin tetapi tidak berani bertanggungjawab.

Setiap individu selayaknya menunjukkan kapasitasnya dengan menghayati dan menerapkan nilai-nilai di atas. Kemampuan di dalam menerapkan nilai-nilai tersebut, secara otomatis akan mempengaruhi terbentuknya integritas individu yang dapat diandalkan, yang dibutuhkan untuk membangun bangsa. Dengan demikian, integritas  merupakan refleksi dari keseluruhan atau totalitas sikap-sikap baik dan unggul yang kita miliki. Dalam kapasitas sebagai anggota masyarakat, kita dituntut untuk memberikan apa yang terbaik dalam diri kita untuk kepentingan orang banyak. Hal ini merupakan moral imperative yang tidak bisa diabaikan mengingat kita hidup dan berinteraksi sosial dalam masyarakat.

Barangkali, implementasi nilai-nilai di atas, patut diterapkan di tengah-tengah masyarakat, khususnya para pemimpin bangsa pada semua tingkatan. Hal tersebut sangat penting dilakukan, karena  hakikat masyarakat kita yang masih paternalistik, yang berorientasi ke atas, lebih banyak melihat cara bertindak para pemimpin sebagai acuannya. Usaha-usaha untuk memperkokoh kesatuan NKRI akan sangat sulit dilakukan tanpa adanya nilai-nilai dasar yang menjadi sumber inspirasi dan bukti kongkrit  tindakan para pemimpin bangsa. Di tengah arus perubahan global dewasa ini dengan berbagai pengaruh yang tidak bisa dibendung, maka tidak ada pilihan lain bagi setiap bangsa untuk memperkuat jati dirinya kecuali dengan mengaktualisasikan kembali nilai-nilai hidupnya sebagai perekat bersama. [7]

Bidang olahraga, memberikan contoh yang sangat sederhana, baik dan praktis untuk ditiru. Akan tetapi, malangnya hanya sedikit saja di antara anak-anak bangsa yang secara sungguh-sungguh dan tulus mau melakukannya. Fenomena yang sekarang mengemuka justru sebaliknya. Konflik-konflik dalam masyarakat terus berlangsung, baik di tingkat bawah maupun atas. Pada tataran massa, terlihat rapuhnya ikatan sosial, pudarnya nilai-nilai solidaritas, dan pada tahap yang paling menyedihkan adalah mudahnya mereka terpancing isu-isu liar yang meresahkan. Keadaan tersebut terjadi di samping karena rendahnya tingkat pendidikan sebagian besar warga, juga tekanan hidup sehari-hari atau ekonomi yang semakin berat. Banyak di antara mereka yang mengalami disorientasi dan kehilangan pegangan, sehingga terjebak dalam perbuatan-perbuatan yang berlawanan hukum. Akar permasalahan dari semua ini adalah pelaksanaan pembangunan yang tidak adil.

Sementara pada pihak lain, gejala serupa juga terjadi pada lapisan atas, khususnya di tingkat elite. Adanya perbedaan kepentingan dan hasrat yang tinggi dalam memperebutkan kekuasaan menjadikan mereka lupa kepada kepentingan rakyat, dan lebih banyak disibukkan agenda mereka sendiri. Kepentingan partai, kelompok, organisasi dan golongan terkadang lebih prioritas ketimbang yang lain. Karena itu tidaklah mengherankan jika konflik di tingkat elite berlangsung lebih keras, dan intens. Terlepas dari kenyataan pihak mana yang benar dan salah, kita melihat bagaimana kelompok-kelompok ini saling mengkritik dan berusaha menjatuhkan satu sama lain, baik melalui perang kata-kata di media massa, maupun pernyataan-pernyataan di depan publik, maupun tekanan massa di tingkat bawah.

Gejala tersebut, secara jelas menunjukkan bagaimana rendahnya etika sebagian elite pemimpin kita, sekaligus merefleksikan sejauh mana sikap persatuan, kesantunan, tanggungjawab, penghormatan, kerjasama, kekompakan, solidaritas, sportifitas, dan lain-lain seakan menjadi barang langka yang sukar ditemukan. Kritik yang seharusnya menjadi medium koreksi terhadap berbagai kebijakan yang melenceng, justru dimanipulasi untuk meningkatkan imej dan publisitas. Sementara masukan konstruktif seringkali dikesampingkan, karena dianggap bertentangan dengan kebijakan normal yang berlaku. Kenyataan ini sesungguhnya tidak perlu terjadi, jika mereka berpikiran positif dan lebih mengedepankan kepentingan umum.

Namun yang terjadi justru sebaliknya, keserakahan makin nampak, korupsi tetap menggunung, angka putus sekolah tetap banyak, kemiskinan dan penderitaan rakyat meningkat, sejajar dengan terjadinya proses akumulasi dan manipulasi kekuasaan segelintir kelompok yang tidak dapat dibendung. Pada dasarnya, hal itu terjadi karena sempitnya cara pandang bangsa ini, dan rendahnya moralitas sebagian para pemimpinnya. Munculnya budaya hedonis dan instant, menyebabkan sebagian diantaranya terdorong berpikir pragmatis dan dangkal, yang secara perlahan bakal menggerogoti seluruh elemen masyarakat. Alih-alih kita menuju masa depan yang cemerlang, namun sesungguhnya meniti jalan balik ke terowong gelap masa silam.

BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan

Berdasarkan penjelasan-penjelasan di atas dapat dikemukakan bahwa nilai-nilai olahraga sesungguhnya memiliki dimensi positif yang sangat bermanfaat yang dapat diterapkan dalam usaha memperkokoh keutuhan bangsa. Dalam banyak hal nilai-nilai yang terkandung dalam bidang olahraga secara subtansial memiliki kesejajaran dengan usaha-usaha pengembangan bangsa. Ada banyak segi positif yang dapat diambil dan ditranformasikan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Meskipun terdapat perbedaan tataran antara bidang keolahragaan dan segi kebangsaan, namun tidak dapat dipungkiri bahwa kedua bidang tersebut memiliki kedudukan yang saling menunjang.

Sebagai sesuatu yang bersifat normatif, nilai-nilai tersebut tentu saja merupakan “modal sosial” yang memerlukan manipulasi kreatif, penjabaran, serta bentuk penerapan yang lebih kongkrit. Usaha semacam itu sangat diperlukan, mengingat munculnya berbagai tantangan dewasa ini yang dikhawatirkan dapat mengancam keutuhan bangsa. Di tengah kehidupan moderen yang berubah dengan cepat, yang ditandai dengan munculnya pergeseran nilai-nilai baru dan arus kehidupan yang makin mengglobal yang cenderung meminggirkan identitas-identitas setempat, maka tidak salah kiranya jika mengambil kembali segi-segi terbaik, dari nilai-nilai yang hidup di masyarakat, untuk dijadikan panduan dalam kehidupan bersama.

B. Saran-saran

Perlunya bangsa Indonesia mereaktualisasi nilai-nilai olahraga ke dalam kehidupan berbagnsa yang diharapkan mampu memperkokoh keutuhan NKRI. Langkah ini merupakan salah satu bentuk kesadaran yang perlu ditampilkan agar kita tidak terjebak dalam arus utama kehidupan yang dengan cepat menggerogoti sendi-sendi persatuan. Kuatnya arus budaya material yang dibarengi dengan berkembangnya mentalitas individualis yang makin menonjol sekarang ini, secara mendasar telah memudarkan solidaritas dan ikatan-ikatan emosional, bahkan pada gilirannya mendangkalkan visi kita sebagai satu bangsa. Akhirnya, perlu dikemukakan bahwa penjelasan yang dikemukakan penulis barangkali hanyalah suatu langkah kecil, namun cukup berarti, dalam menyegarkan kembali visi kita dalam memperkokoh keutuhan NKRI. Semoga


[1] Toho Cholik  Mutohir, Olahraga dan Pembangunan, Jurnal Nasional Pendidikan Jasmani dan Ilmu Keolahragaan, Volume 4, Nomor 1, hal. 96-101,  April 2005.

[2] Lutan, Rusli (ed.), Olahraga dan Etika Fair Play, Jakarta: Direktorat Pemberdayaan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Olahraga Direktorat Jenderal Olahraga Departemen Pendidikan Nasional, 2001. hlm.43

[3]Lutan, Rusli, Siregar, M.F., Djidie, Tahir, Akar Sejarah dan Dimensi Keolahragaan Nasional, Jakarta: Direktorat Jenderal Olahraga Departemen Pendidikan Nasional, 2004. hlm.8

[4] Poedjawiyatna 1992: 68) Poedjawiyatna, Pengantar Filsafat,  Bandung: Rineka Cipta, 1992. hlm.8

[5] Departemen Pendidikan Nasional, Olahraga, Kebijakan dan Politik: Sebuah Analisis, Jakarta: Direktorat Jenderal Olahraga, 2003. hlm.4

[6] John Tomlinson Globalization and Culture, Chicago: The University of Chicago Press, 1999.  hlm.45

[7] Ibid, hlm. 27

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s